Perpustakaan di Era Digital Menggunakan Teknologi AI

Perpustakaan di Era Digital Menggunakan Teknologi AI – Perpustakaan merupakan salah satu institusi yang sangat penting bagi masyarakat. Perpustakaan menjadi penting karena mempunyai peranan yang sangat penting dalam kegiatan pendidikan masyarakat, penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan informasi.

 

Perpustakaan di Era Digital Menggunakan Teknologi AI

Perpustakaan di Era Digital Menggunakan Teknologi AI

rryalsrussell – Namun, di era digital saat ini, pentingnya perpustakaan mulai dipertanyakan. Di tengah melimpahnya informasi yang disediakan oleh teknologi, apakah peran perpustakaan masih diperlukan? Selain itu, persoalan aksesibilitas perpustakaan juga tidak berubah. Di sisi lain, teknologi memiliki aksesibilitas yang lebih terbuka. Banyak orang lebih memilih mencari informasi di Internet dibandingkan di perpustakaan.

Perkembangan teknologi yang berkelanjutan sering kali dipandang sebagai pedang bermata dua. Bisa dianggap sebagai penolong atau penyelamat, bisa juga dianggap sebagai pembawa bencana dan masalah baru. Ada yang berpendapat bahwa teknologi akan menggantikan peran manusia, sehingga pada akhirnya menghilangkan eksistensi manusia.

Secara umum, teknologi bukanlah makhluk hidup. Teknologinya siap menerima perintah apa pun sesuai kapasitasnya. Namun hal tersebut didorong oleh manusia sebagai pencipta dan pengguna.

Teknologi dapat digunakan untuk mendapatkan keuntungan atau sebaliknya. Bukan karena kecenderungannya. Namun lebih lanjut tentang siapa yang menggunakannya dan bagaimana caranya.

Penggunaan teknologi AI di perpustakaan

Munculnya teknologi terbaru berbasis kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT dan teknologi lainnya. Hal ini menimbulkan banyak respon di masyarakat. Ada tanggapan positif-optimis dan ada juga tanggapan negatif-pessimistis. Termasuk pro dan kontra penggunaannya di perpustakaan. Akankah teknologi kecerdasan buatan membantu meningkatkan kualitas perpustakaan atau justru sebaliknya, teknologi kecerdasan buatan akan menggantikan peran perpustakaan? Serta fungsi dan kemampuannya. Perpustakaan berfungsi sebagai penyedia bahan sastra serbaguna yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin perpustakaan masih sangat terbatas dalam hal sumber daya dibandingkan dengan apa yang dapat ditampilkan oleh teknologi AI. Meski kualitasnya mungkin berbeda-beda.

Penggunaan teknologi di perpustakaan bukanlah hal baru. Teknologi berbasis kecerdasan buatan telah lama digunakan di perpustakaan. Ini sering disebut sebagai perpustakaan pintar. Pada tahun 2011, Perpustakaan Akademik Universitas Nebraska-Lincoln menggunakan program chatbot yang disebut Pixel di perpustakaan (Allison, 2011). Meski tampilannya lebih sederhana dibandingkan layanan yang ditawarkan teknologi berbasis AI saat ini.

Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Mckie dan Narayan (2019) menemukan bahwa penggunaan teknologi AI berbasis Chatbot yang disebut Lib-bot di University of Teknologi. Sydney sangat bermanfaat dalam memberikan layanan perpustakaan kepada pengguna.

 

Baca juga : Penggunaan AI dalam Sistem Rekomendasi Buku

 

Sebagai pustakawan, saya tidak melihat teknologi kecerdasan buatan sebagai masalah dalam pengembangan perpustakaan. Teknologi AI tidak dapat bersaing dengan perpustakaan dalam menyediakan akses langsung kepada pengguna ke koleksi fisik buku, jurnal, dan sumber daya lainnya. Namun, teknologi AI dapat membantu pengguna perpustakaan dengan menyediakan akses langsung dan cepat ke sumber daya digital seperti artikel jurnal, e-book, dan database online.

Perpustakaan tetap menjadi tempat penting untuk mengakses dan menyediakan ruang bagi sumber daya fisik. ruang belajar dan kerja bagi pengguna yang membutuhkan tempat yang tenang dan terorganisir.

Perpustakaan dan teknologi AI memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Keduanya dapat membantu pengguna mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa teknologi AI dan perpustakaan sama-sama memiliki peran dan fungsi yang berbeda serta dapat saling melengkapi untuk memenuhi kebutuhan pengguna dalam mengakses informasi.

Perkembangan teknologi tidak boleh dilihat sebagai musuh yang menenggelamkan eksistensi . dari perpustakaan. Di sisi lain, seluruh pengelola perpustakaan harus memahami bahwa teknologi harus dimanfaatkan untuk meningkatkan layanan perpustakaan.

Adopsi teknologi di perpustakaan membuat perpustakaan tetap relevan bagi masyarakat. Perpustakaan akan bertahan apabila dilakukan perubahan, baik perubahan pelayanan, fasilitas, sumber daya maupun perubahan lainnya sesuai dengan kebutuhan perpustakaan. Perubahan harus dilakukan “pertunjukan harus terus berjalan” perpustakaan harus berubah atau perpustakaan akan mati di muka bumi “berubah atau binasa”.

 

Baca juga : Bagaimana Teknologi Memberantas Pertumbuhan Kejahatan

 

Pentingnya perubahan paradigma terkait perpustakaan

Banyak paradigma salah terkait perpustakaan. Pertama, perpustakaan masih sering dipandang sebagai tempat yang membosankan dan kuno. Paradigma ini seringkali muncul akibat kurangnya pemahaman terhadap sebenarnya fungsi dan manfaat perpustakaan. Selain itu, paradigma ini juga lahir dari lambatnya perubahan dan inovasi dalam layanan yang ditawarkan perpustakaan. Faktanya, perpustakaan saat ini telah banyak mengalami perubahan dan menjadi tempat yang menarik, modern, dengan koleksi yang beragam sehingga dapat memenuhi kebutuhan berbagai kalangan pembaca.Kedua, perpustakaan hanya diperuntukkan bagi pelajar atau mahasiswa. Paradigma ini juga salah karena perpustakaan terbuka untuk umum dan siapa saja boleh menggunakannya. Perpustakaan dapat menjadi tempat untuk mengembangkan pengetahuan dan hobi serta menikmati berbagai perpustakaan dan media lainnya.

Di negara maju, seperti Finlandia, perpustakaan merupakan salah satu tempat yang paling populer. Ada banyak varian layanan yang bisa dinikmati di usia yang masih sangat muda. Gunakan KTP saja. Pengguna dapat meminjam buku dan koleksi lainnya di seluruh perpustakaan. Pengembalian koleksi yang dipinjam juga dapat dilakukan secara ekspedisi tanpa harus ke perpustakaan.

Ketiga, perpustakaan tidak memerlukan anggaran yang besar. Paradigma tersebut biasanya bersinggungan dengan pemangku kepentingan dan pimpinan perpustakaan. Paradigma ini tentu kurang tepat, karena perpustakaan memerlukan anggaran yang cukup besar untuk memelihara dan mengembangkan koleksi serta memberikan layanan berkualitas kepada pemustaka. Tanpa anggaran yang memadai, sulit bagi perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan perpustakaan dan memperbarui koleksinya secara berkala. Oleh karena itu, hal ini menjadi perhatian para pemangku kepentingan yang menentukan anggaran perpustakaan.

Semua kesalahan paradigmatik yang disebutkan di atas harus diatasi agar masyarakat dapat memanfaatkan perpustakaan dengan sebaik-baiknya dan mengapresiasi nilainya dengan baik. peranan penting dalam memajukan dan membina pendidikan. membaca dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

You may also like...